Dalam suatu kesempatan saya sangat amat tercengang dengan suatu tayangan program televisi yang menampilkan aktivitas pelajar SMU dan SMP pada saat jam sekolah. Saya cukup geli, heran, dan prihatin melihat bagaimana sekumpulan pelajar tadi yang notabene adalah generasi penerus bangsa terlihat ogah-ogahan untuk duduk manis di kelas mengikuti pelajaran. Snap Shot, suatu program televisi menarik di Metro TV yang menayangkan bentuk “penyimpangan” pada kehidupan masyarakat. Kali ini yang menjadi sorotan adalah kegiatan membolos para pelajar SMA dan SMP yang budiman itu. Kebetulan yang menjadi sorotan adalah beberapa kawasan sekitar sekolah di Jakarta, ini bukan berarti bahwa di tempat lain hal tersebut tidak ada, yang jelas ada bahkan mungkin lebih parah.
Entah siapa yang harus disalahkan, sistem pendidikan kita yang konvensional hingga tidak bisa beradaptasi dengan perubahan jaman, pihak guru dan sekolah yang tidak bisa membuat “mereka” betah, orang tua yang tidak mau tahu, atau memang “mereka” adalah generasi sekarang yang sudah sewajarnya demikian.Ok saya sebut disini “mereka”, sekelompok pelajar yang aGaK-bETe-kLo-PelaAjaRaNnya-bOrInG-aBieZz itu. Beberapa kali “mereka” kepergok kamera, nyelinap keluar pager, nongkrong di taman, nge-game di game center, atau sekedar mondar-mandir di luar area sekolah bahkan yang lebih parah adalah ada dua cewek SMP yang keliatan lagi ngerokok. Bolos di jam pelajaran buat pelajar cewek bagi saya capnya sudah negatif, apalagi mbolos trus nongkrong-nongkrong sambil ngerokok itu sudah amat sangat parah.
Melihat kembali system pendidikan di Indonesia yang sudah sejak lama melahirkan para mentri, ilmuwan, pejabat (yang korupsi juga), dokter, insinyur, hingga artis (celeblog…mungkin he). Apa sebenernya yang salah dengan konsep belajar di kelas trus duduk sambil dengerin guru “ngoceh” dan sesekali ngerjain tugas di LKS. Bagi “mereka” yang berpikiran bahwa “gW-BetE-aBiEzz-kLo-diKeLasS” menurut saya adalah sosok pemuda yang gampang nyerah, gak mau susah, if I may say they’re such a lame coward.
Gini ya dek, jikalau aDeeK ini males nyatet pelajaran, that’s fine, kayaknya sekarang gak jaman guru meriksa catetan, atau nyuruh aDeeK ini nyatet, sudah pake system apa itu KBK, tul kan. All you need to do just put your butt in chair. Males dengerin “ocehan” guru, ya udah cuekin aja gak usah didengerin, just make another fun in class. Seperti saya dulu misalnya, saya agak gak terlalu suka sama satu mata pelajaran, jadi yang saya lakukan adalah sok sibuk dengan menggambar di buku, yang saya gambar adalah guru saya yang lagi nerangin di depan (kayaknya sampe sekarang di bangku kuliah juga gitu…heee). Males ngerjain LKS, just copy paste, gak masalah kan. Apalagi adek yang sekolah di sekolah swasta yang mahal, atau sekolah negeri favorit dengan fasilitas yang wah itu. Di sekolah sudah ada wifi, di kantin sudah ada berbagai panganan yang biasanya dijumpai di mall itu, atau di sekolah kalau mau ikutan ekskul dari balet hingga debus juga ada, so ngapain bolos. Apakah sekolah harus dibangun di area pusat perbelanjaan, ataukan sekolah harus berdaptasi dengan kemauan sang murid.
Ada beberapa komentar menarik yang ditampilkan pada acara tersebut ketika mereka ditanya kenapa dikau keluyuran di luar sekolah, jawaban mereka adalah “ya..lagi males aja” dan mereka juga ditanya apakah ortu mereka tau klo mereka itu bolos, jawabannya adalah “Ya..taulah..mereka ngerti klo bolos, pasti lagi ada masalah di sekolah”. Saya gak tau apakah itu cuma akal-akalan mereka atau memang itu adanya. Apakah karena dunia sudah berubah, orang tua begitu mudahnya memberikan toleransi kepada anaknya untuk membolos. Mungkin pesen si ortu pas anaknya mau berngkat sekolah “Baek-baek ya de’ di sekolah, ntar klo ada masalah sama temen atau guru, atau dede' udah suntuk loncat pager aja, nonkrong aja di empang deket sekolah, dede’ mancing aja disitu kan lumayan buat makan siang”.
Ada yang aneh mungkin menurut saya, kadang orang tua menyerahkan segala sesuatunya kapada pihak sekolah. Orang tua menganggap bahwa pihak sekolah bisa melakukan pengawasan terhadap anak mereka. Sadarkah mereka kalau guru juga manusia yang tidak luput dari lupa dan khilaf (hee..), taukah mereka bahwa guru juga gak bisa ngawasin satu persatu bocah demi bocah dalam satu kelas. Semua kembali kepada orang tua, bagaimana mereka meberikan batasan dan toleransi yang sesuai, bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai positif tehadap anaknya.
Kembali ke masalah apakah sistem pendidikan di sekolah harus menyesuaikan dengan kondisi jaman dengan bercermin kepada “mereka”. Ataukah pihak sekolah harus memanggil orang tua “mereka” satu persatu, atau mungkin pihak sekolah harus dengan terpaksa menyeret “mereka” kembali ke kelas. Agak sedikit bertanya, apakah ini wajah palajar yang kemarin berdemo menolak penambahan mata pelajaran unas, saya khawatir diantara yang memang secara jujur merasa dirugikan oleh Unas ada wajah “mereka”. Wajah siswa yang suka keluar di saat-saat jam pelajaran, wajah siswa yang suka bosen di kelas, wajah siswa yang suka bolos dan nonkrong sambil ngerokok tanpa peduli bahwa orang tua di rumah sudah menyiapkan makan siang buat anaknya yang capek pulang sekolah.